CQ 160 CW 2017 – FIRST COMEBACK ON TOP BAND

Go to English Version

Pada 3 Januari 2017, bertempat di kediaman Om Kasmuri YC1MR, tim berdiskusi mengenai kegiatan DX Contest yang akan diikuti selama 2017. Kontes pertama dari 5 Contest Agenda yang pada akhirnya disepakati oleh tim pada 6 bulan pertama di 2017 adalah CQ WW 160M – CW yang sekaligus merupakan comeback pertama kalinya dari sebagian anggota tim setelah penampilan terakhir mereka pada top band di 2011 bersama dengan rekan-rekan ORDA Jawa Barat, di mana saat itu callsign yang digunakan adalah YE1C. Setelah sekian tahun lamanya, akhirnya tim kontes kembali lagi ke Gunung Malang untuk mengikuti CQ 160M Contest – CW, yang kebetulan kali ini semua anggota tim adalah dari ORARI Lokal Bekasi dengan menggunakan Contest Call YE1K.

Persiapan dan Perjalanan

Berdasarkan informasi Om Kasmuri sebelumnya bahwa telah banyak perubahan di Gunung Malang, tim sepakat untuk melakukan beberapa rangkaian persiapan sebagai berikut :

  • 8 Januari 2017 : Sebagian anggota tim melakukan survey awal untuk menindaklanjuti informasi dari Om Kasmuri YC1MR sebelumnya, bahwa kondisi di Gunung Malang sudah berubah dengan bertambahnya 1 tower milik TVRI. Tim Survey ini terdiri dari Om Danu YF1DO, Om Awi YC1DPM, dan Om Kasmuri YC1MR
  • 12 Januari 2017 : Informasi hasil survey ke Gunung Malang dibahas dalam rapat koordinasi tim untuk persiapan kontes yang berlangsung di kediaman Om Kasmuri-YC1MR dan dihadiri oleh YB1CF (Yoyon), YC1DPM (Awi), YC1ME (Mawan), YC1MR (Kasmuri), YF1DO (Danu), YD1DGZ (Hendar), YD1DOQ (Oki), dan YD1OLG (Oleng). Dalam rapat tersebut, dibahas beberapa hal teknis meliputi perijinan, perubahan arrangement antenna untuk TX, logistik, persiapan peralatan, pembagian tugas, dan rencana perjalanan
  • 27 Januari 2017 : Pada jam 7:00 WIB, rombongan yang terdiri dari 2 kendaraan dengan 7 personnel berangkat dari Bekasi untuk bertemu di titik kumpul KM-39 Tol Jakarta-Cikampek di mana Kendaraan Om Danu sudah menunggu di sana. Setelah melakukan transfer personnel di KM-39, akhirnya rombongan utama ini yang terdiri dari 3 kendaraan berangkat menuju Gunung Malang dan sekitar 10.00 WIB tibalah rombongan di tempat tujuan.

Instalasi Antenna dan Setup Station

Sebelum aktifitas bongkar peralatan, diskusi singkat dilakukan oleh tim untuk menentukan titik penarikan antenna dipole yang akan dipergunakan untuk TX dan akhirnya disepakati bahwa antenna dipole akan diinstall dengan feed point pada menara TVRI lama dengan satu bentangan menuju triangle bekas antenna tribander dan bentangan lainnya ke arah menara lama yang berada di sisi sebelah timur laut dari feed point.

Gunung Malang at Distance

Foto 1 : Station Gunung Malang dari Kejauhan

Pembagian tugas secara garis besar dibagi menjadi 3 tim kecil yaitu :

  • Persiapan sumber tenaga dan kelistrikan sampai dengan setup station dilakukan oleh tim yang terdiri dari Om Danu YF1DO, Om Awi YC1DPM dan Om Hendar YD1DGZ
  • Persiapan antenna dipole untuk TX, dan antenna beverage untuk RX dilakukan oleh tim yang terdiri dari Om Yoyon YB1CF, Om Kasmuri YC1MR, Om Mawan YC1ME, dan Om Oleng YD1OLG. Dibantu oleh Pak Enjang dan Pak Herman dari Pertamina
  • Logistik oleh Mbak Oki YD1DOQ

Instalasi feed point untuk dipole berikut tarikan salah satu sisi ke triangle di arah barat daya feedpoint bisa diselesaikan pada pukul 11.30 WIB. Selanjutnya tim sepakat untuk berisitirahat dulu dan melakukan ibadah sholat jumat bersama di mesjid terdekat.

SONY DSC

Foto 2 : Salah satu sisi dipole ke triangle di barat daya feed point

Feed Point

Foto 3 : Lokasi Feed Point untuk Dipole di Menara TVRI Lama

Sisi dipole arah barat laut

Foto 4 : Menara untuk tarikan sisi dipole di arah timur laut feed point

Setelah sholat Jumat dan penarikan sisi dipole ke arah timur laut dari feed point dilakukan, selanjutnya dilakukan penarikan antenna beverage sebagai RX antenna. Instalasi antenna beverage yang akan ditarik dengan directivity ke arah utara ini memiliki tantangan sendiri mengingat medan yang dilalui cukup miring dengan inklinasi sekitar 30 – 45 derajat, dan melalui perkebunan tomat milik warga sekitar. Panjang elemen untuk beverage sendiri sekitar 160 meter ( 1 lambda ) dengan Matching Transformer yang digunakan adalah 9:1 dan terminating resistor sebesar 470 ohm di bagian ujung.

beverage-antenna-arrangement

Foto 5 : Skema Arrangement untuk Antenna Beverage di Gunung Malang

Pemasangan Impedance Transformer dan Grounding

Foto 6 : Pemasangan Impedance Transformer 9:1 untuk Beverage dan Grounding

Om Awi dan Om Hendar

Foto 7 : Om Awi-YC1DPM (kiri) dan Om Hendar-YD1DGZ (kanan) menyusuri lereng untuk menarik beverage

Pemasangan Terminating Resistor

Foto 8 : Pemasangan Terminating Resistor di ujung sebalah utara

SONY DSC

Foto 9 : Berdiri kiri – kanan : Om Awi YC1DPM, Om Hendar YD1DGZ, Pak Herman. Duduk kiri – kanan : Pak Enjang, Pak Rio

Tepat pada pukul 16:00 WIB, masih di Hari Jumat 27 Januari 2017, selesailah instalasi antenna baik TX maupun RX, berikut juga dengan penarikan kabel power dan transmission line ke ruang operator. Untuk station atau ruang operator sendiri kali ini bertempat di gedung Pertamina, berbeda dengan tahun-tahun terdahulu di mana ruang operator berada di gedung milik TVRI. Keputusan ini diambil setelah tim berdiskusi dengan berbagai macam pertimbangan baik teknis maupun non teknis.

Station Testing 

Untuk memastikan bahwa saat kontes keesokan harinya semua peralatan yang sudah tersetup termasuk perangkat lunak bisa bekerja sebagaimana yang diharapkan, dilakukanlah pengetesan untuk contest station ini. Beberapa hari sebelumnya, tim juga telah mengatur SKED untuk komunikasi dengan Jim-W6YA di luar kontes pada waktu dan frekuensi yang ditentukan. Om Awi – YC1DPM berkesempatan untuk melakukan uji coba pada station yang baru disetup ini, sekaligus untuk pertama kalinya Om Awi berkomunikasi di top band menggunakan homecall. Perangkat yang digunakan adalah IC-7800 dengan linear EMTRON yang di-drive untuk mengeluarkan output power sebesar 500 watts saat uji coba sebelum kontes.

Setelah beberapa kali CQ untuk W6YA ON SKED belum mendapatkan respon, YC1DPM memutuskan untuk melakukan panggilan umum dan tepat pada 11.05 UTC datanglah panggilan pertama dari JH0INP. Bagi Om Awi pribadi, komunikasi dengan JH0INP bisa dikatakan sebagai komunikasi bersejarah, karena station tersebut merupakan station pertama yang berada di log-nya pada 160M band. Selamat untuk Om Awi !!!

Sayang sekali pada beberapa kali uji coba tersebut, Jim W6YA yang sudah mengatur SKED dengan tim, tidak berhasil untuk berkomunikasi kali ini, semoga masih ada lain waktu di mana tim pada akhirnya akan bisa berkomunikasi dengan W6YA.

Sesudah itu, makin banyak station yang memanggil YC1DPM selama antenna testing tersebut. Tercatat juga 2 stations dari Indonesia YC1YU (Om Urip) dan YB1CYD (Om Darmono) masuk dalam log YC1DPM. Bahkan sempat YC1DPM mengalami pile up pada malam tersebut. Hal ini sangat bisa dimaklumi mengingat YB Station masih merupakan rare station untuk top band. Tidak hanya itu saja, bahkan Om Awi sempat mendapatkan beberapa email pribadi yang menanyakan apakah benar YC1DPM sedang on air di 160M dan mereka juga berharap bahwa semoga ini adalah kenyataan dan mereka tidak sedang berkomunikasi dengan PIRATE !!! ..hi..hi.. Hal menggelikan yang sekali lagi bisa dimaklumi.

Pada hari Sabtu dini hari (28 Januari 2017) sekitar pukul 02.00 WIB atau 27 Januari 2017 19.00 UTC, rombongan ke-2 dari Bekasi tiba di lokasi yaitu Om Budi-YB1EME, Om Nyoman-YB1NWP dan seorang calon amatir Hendri, sehingga suasana makin meriah dengan dukungan tambahan dari beberapa amatir dari ORARI Lokal Bekasi.

CQ outside contest

Foto 10 : OM Awi YC1DPM didampingi oleh Om Nyoman YB1NWP melakukan DX-ing pada 160m di luar kontes

Kira-kira 10 menit menjelang kontes dimulai (Jumat 27 Januari 2017 21.50 UTC) atau Sabtu 28 Januari 2017 04.50 WIB, Om Awi mengakhiri DX-ing pada top band yang sekaligus juga untuk antenna testing (dengan perolehan total QSO selama Station Testing tersebut sebanyak 59). Selanjutnya seluruh anggota tim bersiap-siap untuk memulai kontes yang diawali dengan berdoa terlebih dahulu.

Kontes Hari-1

Tepat pada 28 Januari 2017 Pukul 05.10 pagi (27 Januari 22.10 UTC), YE1K memulai kontes dengan QSO diawali oleh station dari West Malaysia 9M2/JE1SCJ masuk dalam log pertama YE1K. Tidak banyak station yang berhasil QSO dengan YE1K di pagi hari tersebut, tercatat hanya 9 stations yang in log, di mana salah satunya adalah top bander dari YB Land Om Ferry YC1COZ, sampai akhirnya pada 28 Januari 2017 pukul 06.30 WIB ( 27 Januari 2017 23.30 UTC ) propagasi sudah tidak lagi menguntungkan.

YB1NWP

Foto 11 : YB1NWP Om Nyoman menjadi operator menjelang menutupnya propagasi di 160M pada hari-1

Dengan menutupnya propagasi pada siang hari, sebagian anggota tim memanfaatkan waktu ini untuk beristirahat, sementara sebagian lagi bersantai menikmati sejuknya hawa pegunungan. Dukungan untuk tim ini masih terus berlanjut setelah Om Heri YB1KAR datang di siang hari dari Bandung. Memang ajang DX Contest semacam ini selalu menjadi ajang berkumpul bagi anggota tim yang sehari-harinya berpencar karena aktifitas masing-masing.

Saat hari menjelang petang, operator yang bertugas saat itu Om Mawan YC1ME mulai melakukan CQ tepat pukul 10.00 UTC. Tidak terlalu lama bagi YE1K untuk mendapatkan jawaban karena beberapa saat setelah CQ dilakukan, Club Station dari Bogor YE1ZAL masuk. Namun, setelah pertukaran report terjadi, dan YE1ZAL masuk ke dalam log, tiba-tiba pesawat IC-7800 mati. Beberapa kali usaha untuk menghidupkan pesawat tidak membawa hasil sehingga troubleshoot segera dilakukan oleh Om Nyoman YB1NWP. Dari hasil troubleshoot yang dilakukan ini didapati bahwa internal power supply 5 VDC dari pesawat mengalami gangguan. Melihat kenyataan ini, tim sepakat untuk segera menggunakan pesawat cadangan IC-7300.

Mengingat pesawat IC-7300 tidak memiliki port untuk RX dan TX antenna, digunakanlah automatic switch tersendiri untuk mengakomodir kebutuhan RX dan TX antenna. Setting baik hardware maupun software selesai dilakukan dan setelah downtime kurang lebih selama 1 jam, YE1K siap untuk mengudara lagi.

Om Mawan YC1ME segera melakukan CQ setelah tim ini kehilangan waktu 1 jam, beberapa saat CQ dilakukan, masuklah Om Yon YB1UUU, dan setelah pertukaran report, akhirnya YB1UUU masuk sebagai station pertama dalam log YE1K dengan pesawat cadangan ini. Di hari pertama ini, QSO terus berlangsung sampai dengan minggu pagi 28 Januari 2017 pukul 23.41 UTC atau 29 Januari 2017 pukul 06.41 WIB dengan UD4F merupakan station terakhir di hari pertama yang berhasil masuk log YE1K sebelum propagasi menutup.

Berbeda dengan kontes-kontes yang lain, untuk kontes pada 160M ini operator tidak bekerja sendiri, melainkan dibantu oleh Co-Operator yang selain bertugas memastikan station yang masuk tercatat dengan benar, juga untuk membantu mendapatkan callsign dari station yang masuk secara utuh. Hal ini dilakukan mengingat pick up static noise yang sangat tinggi di top band, serta kondisi fading yang sangat mengayun. Adalah sesuatu yang sangat lumrah di top band contest ini jika terdapat station yang masuk sangat kecil bahkan tidak nampak dalam signal strength meter, atau station yang terdengar jelas namun tiba-tiba tenggelam oleh noise dan hanya bisa kita dapatkan sebagian dari callsign station tersebut. Di sinilah peran Co-Operator berjalan, untuk membantu Operator mendapatkan penggalan-penggalan callsign yang tidak tercopy dengan baik. Di akhir hari pertama, total 158 stations masuk dalam log YE1K.

Kontes Hari-2

Pada hari minggu sekitar pukul 09.00 WIB, Om Budi YB1EME, OM Nyoman YB1NWP, dan Hendri berpamitan untuk kembali ke Bekasi karena ada keperluan. Namun siang harinya sekitar jam 12.00, Om Joz YD1JZ dan Om Rizal YD1ORZ tiba di lokasi kontes dari Bekasi. Kedatangan Om Joz selain sebagai operator tambahan, juga untuk membawakan pesawat pengganti yang merupakan most demanded rig dari seluruh anggota tim jika beroperasi pada mode CW, yaitu Elecraft K3.

Menjelang petang hari sebelum akhirnya pesawat Elecraft K3 digunakan, terlebih dahulu dilakukan perbandingan antara IC 7300 dan Elecraft K3 untuk receive menggunakan RX antenna yang sama. Pengujian ini sengaja dilakukan dengan mencari signal CW dari suatu station yang sangat lemah sampai pada suatu ketika didapat signal yang benar-benar kecil dan terdengar di Elecraft K3, namun begitu antenna di-switch ke IC-7300, tiba-tiba signal tersebut tidak terdengar. Beberapa pengaturan dilakukan pada IC-7300 untuk memaksimalkan receive dari signal yang sangat kecil tersebut namun tetap tidak membawa hasil sesuai harapan, dan begitu antenna kita switch lagi ke Elecraft K3, signal lemah tersebut terdengar lagi, switch ke IC-7300 menghilang, switch lagi ke Elecraft K3 terdengar lagi.

Dari uji singkat tersebut, meyakinkan seluruh anggota tim untuk sepakat menggunakan Elecraft K3 menggantikan IC-7300 yang digunakan pada hari-1. Saat seluruh anggota tim sudah siap mendulang QSO dengan target melebihi perolehan di hari-1, saat seluruh anggota tim sangat senang dengan datangnya pesawat pengganti yang memang selama ini selalu menjadi andalan untuk mode CW, saat sudah terbayang bahwa kontes akan menjadi lebih menyenangkan di hari-2, ternyata cobaan bagi tim datang di saat semuanya memang sudah sangat terencana. Tak lama setelah linear amplifier di-ON kan, terdengar ledakan kecil yang mengharuskan tim mematikan semua peralatan. Kondisi makin tidak menguntungkan karena salah satu operator tim yang kebetulan juga merupakan teknisi tim yang handal yaitu Om Nyoman YB1NWP sudah kembali ke Bekasi.

Akhirnya diputuskan membongkar linear amplifier untuk memastikan penyebab timbulnya ledakan. Tidak seorangpun dari anggota tim yang tersisa di contest station saat itu terbiasa melakukan disassembling pada part linear. Sehingga diperlukan waktu yang sangat lama untuk melakukan pembongkaran.

photo_2017-02-05_06-14-14

Foto 12 : Internal Part dari Linear Amplifier

photo_2017-02-05_06-14-35

Foto 13 : Modul berisi ELCO yang ditengarai bermasalah pada linear amplifier

Setelah modul di mana rangkaian Electrolyte Capacitor terpasang berhasil dikeluarkan dan diperiksa, tim tidak dapat menemukan secara fisik bagian ELCO yang rusak, bahkan melihat adanya bekas warna hitam pada salah satu kaki resistor, hanya dilakukan pembersihan dan soldering ulang pada beberapa titik dan modul segera dipasang kembali.

Proses dari disassamble sampai reassemble part ini memakan waktu kurang lebih 2 jam. Setelah semua terpasang kembali, dan siap dilakukan pengetesan terhadap linear amplifier tersebut, hampir semua anggota tim yang tersisa duduk di lantai mengelilingi unit tersebut dengan perasaan tegang dan berharap usaha yang telah dilakukan membawa hasil. Cover belum terpasang, karena masih akan dilakukan pengetesan. Begitu Om Danu YF1DO memberikan isyarat untuk meng-ON kan linear, dan power sudah ON, seketika itu juga muncul ledakan yang lebih besar disertai dengan percikan api yang sangat jelas terlihat dari modul ELCO. Selesailah semuanya dan hampir semua yang berada di ruangan saat itu tertunduk lesu mengetahui kenyataan yang tengah mereka hadapi.

Karakter signal di 160M band yang sangat kuat dipengaruhi oleh perubahan densitas elektron di D-Region pada Ionosphere, menyebabkan tingkat penyerapan signal yang sangat besar dan secara langsung juga berpengaruh pada intensitas pelemahan yang terjadi, di samping beberapa fenomena lain yang sangat kompleks dan susah untuk diprediksi, menyebabkan perlunya daya pancar yang tinggi jika menginginkan hasil kontes yang maksimal. Dan baru saja harapan itu pupus dengan meledaknya rangkaian ELCO pada satu-satunya linear amplifier yang dibawa oleh tim dari Bekasi. Hal ini semakin diperkuat setelah pada siang hari sebelumnya, OM Mawan YC1ME sempat mendapatkan informasi dari Om Yon YB1UUU di Banten, di mana dia sangat kesusahan untuk bisa menembus EU dengan pancarannya yang hanya 100 watt.

Show must go on. Kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh tim di hari-2 dan mungkin juga merupakan kenyataan yang pada akhirnya sangat mempengaruhi  hasil kontes secara keseluruhan, terlepas dari target awal tim untuk memperoleh total 323 QSOs. Tim ini baru saja kehilangan periode emas untuk bisa berkomunikasi dengan beberapa station di grey line area dari North America, dan juga beberapa station di belahan Asia Utara.

Diskusi dan rencana ulang dilakukan di ruang makan saat Mbak Oki YD1DOQ memanggil seluruh anggota tim untuk melakukan makan malam. Sementara Om Mawan YC1ME tetap berusaha mencari peruntungan dengan tetap melanjutkan kontes meski terpaksa harus running barefoot 100 watt. Perbedaan sangat terasa antara terdengar dan tidak dengan low power pada top band.

Malam ke-2 propagasi benar-benar terbuka namun YE1K lebih sering tidak terdengar dan tergencet oleh big stations yang beroperasi di atas dan bawah frekuensi kerja. Bahkan tidak jarang station yang beroperasi tepat di frekuensi kerja YE1K, sehingga diputuskan untuk melakukan scanning meskipun hal ini tidak akan memberikan hasil yang jauh berbeda, tercatat hanya segelintir station yang bisa masuk dalam log dan itupun adalah station dari JA dan HS, sementara beberapa station dari NA dan Asiatic Russia tidak bisa mendengar YE1K dengan baik.

Setelah 6 station sempat terjaring pada pada log YE1K, scanning dilakukan pada band edge untuk menghindari keramaian big guns dari EU maupun JA, sampai suatu ketika terdengarlah station dari USA yaitu K7CA melakukan CQ di sekitar band edge. Saat panggilan tersebut direspon oleh Om Mawan dengan “YE1K” pada spasi, tiba-tiba K7CA menghentikan CQ sesaat dan kembali dengan “1K 1K ?”. Seolah tersentak dengan respon dari K7CA yang sempat mendengar potongan dari YE1K, Om Mawan mencoba untuk membalas dengan mengirimkan “YE1K”, namun tetap K7CA belum bisa mengcopy dengan baik sampai 5 kali periode selalu berakhir dengan “AGN?”. Hingga pada saat K7CA kembali untuk ke-6 kalinya, terdengar signalnya lebih besar dari sebelumnya dan Om Mawan berpikir bahwa kondisi yang mulai terbuka ini harus dimanfaatkan dengan baik dilanjutkan dengan pengiriman “YE1K YE1K”. Tiba-tiba hal yang tak terduga terjadi pada momen tersebut, di mana tak lama sesudah itu terdengar balasan dari K7CA yaitu “R R YE1K” diikuti dengan pertukaran report. Bahkan di akhir transmisi K7CA sempat mengirimkan 2 kali terima kasih dengan “TU TU”, yang dibalas oleh Om Mawan dengan 3 kali “TU TU TU” begitu masuk di log sebagai perwujudan rasa senang atas kesabaran K7CA untuk mendengarkan YE1K. Om Mawan tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya akan hal ini, demikian juga dengan rekan-rekan yang sedang menikmati makan malam, turut bergembira pada akhirnya dengan 100 watt masih bisa menembus USA. Thanks to K7CA for patience and good ear !

Sementara itu, dari diskusi di ruang makan, dan melihat kenyataan beratnya running 100 watt pada 160m band, Om Kasmuri berinisiatif untuk meminta bantuan salah seorang pegawainya di Bekasi untuk mengirimkan linear miliknya. Dibutuhkan sekitar 2-3 jam perjalanan dari Bekasi ke Gunung Malang dan tepat jam 9.00 WIB malam, linear tersebut diberangkatkan dari kediaman Om Kasmuri di Bekasi menuju Gunung Malang.

Selama menunggu linear cadangan datang, secara bergantian Om Heri YB1KAR dan Om Awi YC1DPM menggantikan Om Mawan untuk menjadi operator dengan tetap running barefoot 100 watt dan mencoba memanfaatkan peluang sekecil apapun. Tercatat hanya total 14 station bisa terjaring pada log YE1K selama memancar dengan 100 watt tersebut dengan periode operasi kurang lebih 7 jam. Salah satu station yang sempat terlog adalah Om Yana Koryana YB1AR.

Sekitar pukul 2300 WIB tibalah linear amplifier cadangan yang ditunggu dan setup segera dilakukan. Tepat pada 28 Januari 2017 pukul 23.24 WIB atau 16.24 UTC, tim sudah bisa memancar dengan power sekitar 500 – 600 watt dan tidak bisa diload lebih tinggi lagi mengingat unit mengalami panas berlebih saat diload lebih tinggi yang mengharuskan pintu dan jendela ruang operator harus dibuka untuk membantu proses perpindahan panas via natural convection, dan ini menyebabkan udara di ruangan menjadi sangat dingin.

Waktu sebelum kontes berakhir hanya tersisa sekitar 5.5 jam sampai akhirnya pada dini hari tim ini harus turun dengan 3 operator untuk mengejar ketinggalan dalam perolehan QSO. Awalnya Om Mawan YC1ME yang menjadi operator dengan 2 Co-Operators yaitu Om Joz YD1JZ dan Om Heri YB1KAR, sampai terjadi pertukaran operator untuk bergantian dalam menunaikan ibadah sholat subuh. Cara ini terbukti sangat efektif dalam mengatasi masalah saat terjadi heavy pile up yang disertai fading. Hal ini dikarenakan saat operator utama sedang fokus ke salah satu station, 2 co-operators sudah menyimpan station lain yang masuk bersamaan dan disimpan pada layar terpisah yang memudahkan operator utama untuk membaca station berikutnya. QSO rate menjadi naik ditambah dengan semangat tim untuk mengejar ketertinggalan setelah melalui beberapa kesulitan dan rugi waktu yang telah terjadi sebelumnya.

photo_2017-02-05_06-14-43

Foto 14 : Menjelang kontes berkahir, YB1KAR menjadi operator dibantu oleh YC1ME dan YD1JZ (tidak tampak dalam foto) sebagai Co-Operators

Di hari-2, setelah usaha yang dilakukan secara maksimal, tim akhirnya hanya bisa mendulang 129 QSOs tambahan sehingga di akhir kontes dan dilakukan rescoring pada logging software, diperoleh total 287 QSOs dengan claimed score 140,500. Sebagian besar adalah station dari EU dan JA, beberapa dari OC dan AF, dan hanya 3 stations saja dari Whiskey Land yang bisa masuk dalam log. Total perolehan yang tentunya jauh di bawah target 323 QSOs yang dicanangkan oleh tim di awal kontes, namun mengetahui kesulitan yang dihapadapi berkali-kali oleh Tim YE1K selama kontes berlangsung, hasil ini sangat patut disyukuri. Banyak pelajaran berharga diperoleh tim mengenai pentingnya unit cadangan saat melakukan kontes jauh dari home base. Sebenarnya hal tersebut sudah diperhitungkan oleh tim, di mana hampir semua peralatan yang dibawa sudah memiliki unit cadangan, sayangnya masih terlewat pada 1 unit yang tanpa cadangan dari awal, yaitu Linear Amplifier.

Seperti biasa, selalu merupakan perjuangan yang sangat berat untuk bisa bersaing dengan station dari KH di level Oceania, namun setidaknya kemunculan YE1K kali ini merupakan indikasi positif bagi anggota tim untuk bisa kembali aktif lagi di top band setelah beberapa tahun vakum. Terlebih lagi, pada tahun lalu hampir seluruh anggota tim merasakan kehilangan yang sangat mendalam atas berpulangnya seorang sahabat yaitu Om Johan Teranggi YC0LOW sebagai most active top bander di Indonesia, dan memegang DXCC di band ini. Selain dikenal sangat dekat dengan beberapa anggota senior tim pada beberapa tahun terakhir di masa aktifnya, Mbah Jo, demikian kami biasa memanggil beliau, juga turut andil dalam proses pembangunan station lama di Gunung Malang.

Dan entah suatu kebetulan atau tidak, bahkan hampir semua peralatan yang digunakan oleh YE1K selama kontes kali ini, sebelumnya adalah milik beliau yang diwariskan ke beberapa anggota tim. Peralatan tersebut antara lain : Beverage Antenna untuk RX, Palstar AT2K Antenna Tuner, dan Elecraft K3 yang hanya khusus untuk mode Cw (tanpa modul SSB).

Serba-Serbi Selama Kontes

L-R : YB1NWP, YD1OLG, YC1MR, YD1DGZ

Foto 15 : Kiri-Kanan  : YB1NWP, YD1OLG, YC1MR, YD1DGZ

DCIM100MEDIADJI_0263.JPG

Foto 16 : Santai di Sabtu pagi _ 1

DCIM100MEDIADJI_0269.JPG

Foto 17 : Santai di Sabtu pagi_2

DCIM100MEDIADJI_0270.JPG

Foto 18: Santai di Sabtu pagi_3

DCIM100MEDIADJI_0281.JPG

Foto 19 : Santai di Sabtu pagi_4

DCIM100MEDIADJI_0287.JPG

Foto 20 : Station tampak dari kejauhan

DCIM100MEDIADJI_0290.JPG

Foto 21 : Relief di sekitar station yang dipenuhi oleh kebun tomat

SONY DSC

Foto 22 : L-R : YC1MR, YF1DO, YD1DGZ, YC1ME, YD1OLG, YB1CF, YD1DOQ, YC1DPM, and YB1KAR (Lay Down)

SONY DSC

Foto 23 : L-R : YD1DGZ, YC1DPM, YC1MR, YD1OLG, YD1DOQ, YB1CF, YF1Do, YC1ME, YB1KAR

SONY DSC

Foto 24 : Makan Malam_1

SONY DSC

Foto 25 : Makan Malam_2

Post Contest Review

Seperti pada pelaksanaan kontes-kontes yang lain baik saat signing menggunakan club station YE1ZAT maupun Contest Station YE1K, sebelum mengakhiri kegiatan di Gunung Malang, tim berkumpul untuk melakukan review kegiatan baik teknis maupun non-teknis terkait dengan pelaksanaan kontes yang sudah berakhir dan review kali ini dipimpin oleh YC1ME. Selama proses review, masing-masing anggota tim secara bergiliran memberikan opini masing-masing mengenai kegiatan yang sudah berlangsung termasuk mencoba untuk mencari kekurangan yang perlu dibenahi di kemudian hari, serta mempertahankan hal-hal yang dianggap sebagai terobosan positif.

photo_2017-02-05_06-14-55

Foto 26 : Post Contes Review oleh Tim sebelum mengakhiri kegiatan

Di akhir review, Om Heri YB1KAR berkesempatan memberikan tauziyah singkat yang diakhiri dengan pembacaan doa.

Setelah selesai pembacaan doa, tim melakukan loading barang ke kendaraan dan bersiap-siap untuk kembali ke Kota Bekasi.

foto-persiapan-pulang

Foto 27 : Persiapan terakhir tim sebelum bertolak kembali ke Bekasi. Kiri-Kanan : YD1JZ, YB1KAR, YF1DO, YC1ME, YD1ORZ, YC1DPM, YC1MR, YD1DGZ, YD1DOQ, YD1OLG, Pak Enjang, YB1CF

Sampai jumpa pada kontes berikutnya di Mid-Februari 2017 (CQ WPX RTTY) dan semoga masih ada kesempatan untuk mengulang CQ 160 CW tahun depan di tempat yang sama, Gunung Malang, karena sejauh ini baru di sinilah tim merasakan sebagai tempat yang paling sesuai untuk beroperasi pada top band.

Perlengkapan Kontes :

  • Rig IC-7800 (digunakan saat antenna testing dan pembukaan kontes)
  • Rig IC-7300 (rig cadangan yang digunakan di hari-2)
  • Rig Elecraft K3 (rig utama yang digunakan pada hari-2)
  • EMTRON Linear Amplifier (PO 1kW digunakan di hari-1)
  • TOKYO HY-POWER Linear Amplifier (Unit Cadangan Tambahan, digunakan pada beberapa jam terakhir dengan PO 600 watts)
  • MFJ Versa Tuner (tuner utama)
  • Palstar AT2K (tuner cadangan)
  • Switching Power Supply 40A
  • Switching Power Supply 30A
  • MFJ Automatic Antenna Switching
  • 1 laptop Dell untuk logging
  • 1 laptop ThinkPad untuk cadangan
  • 2 LCD Monitor
  • Full Size Wire Dipole untuk TX Antenna
  • 160 Meter Uni-Directional Beverage untuk RX Antenna

73,

Team of YE1K

ENGLISH VERSION

In January 3rd, 2017, held in Kasmuri (YC1MR)’s QTH, a discussion related with DX Contests that team would take part in 2017 was initiated. As result, the first one of 5 agenda in first half of 2017 that team had all agreed was CQ WW 160M – CW. This contest would be the first comeback by some of team members having not being active for the past few years on top band where last appearance was in 2011. At the time team signed as YE1C ( West Java Contest Station ). Finally, after years, this team went back to Mount Malang for CQ 160M – CW. This time, all of team members were from Local District of Bekasi (well known as ORARI Lokal Bekasi)

Preparation and Trip

Based on the latest information from Kasmuri upon previous visit to Mount Malang, series of preparation were taken as follows :

  • January 8, 2017 : Advance survey was undertaken to technically review possible antenna installment following some changes at site. Survey Team : YF1DO Danu, YC1DPM Awi, and YC1MR Kasmuri
  • January 12, 2017 : Coordination meeting was held to follow up resulted advance survey above, attended by YB1CF Yoyon, YC1DPM Awi, YC1ME Mawan, YC1MR Kasmuri, YF1DO Danu, YD1DGZ Hendar, YD1DOQ Oki, and YD1OLG Oleng. Details in technical i.e. permit, TX Antenna arrangement, logistic, job assignment as well as journey plan were discussed.
  • January 27, 2017 : At 07.00 Jakarta Time, group consists of 2 cars with 7 personnel left for KM-39 at Jakarta-Cikampek Highway where Danu’s car had already been there. Soon after personnel transfer at KM-39, this main group (@ 3 cars with 8 personnels) left for Mount Malang and arrived at destination around 10.00 Jakarta Time.

Antenna Installation and Station Setup

Just before unloading equipment, short discussion was held to locate dipole antenna for TX, revealed Old Tower of TVRI (Republic of Indonesia TV) would be used as feed point location, where one dipole leg was strung to triangle located at south west, leaving another leg strung to another old tower at north east. (Pic. 1 describes Mount Malang at Distance)

Job assignment was divided into 3 small groups :

  • Power source and distribution as well as operator’s room setup were handled by YF1DO Danu, YC1DPM Awi, and YD1DGZ Hendar
  • Both Wire Dipole for TX and Beverage for RX were handled by YB1CF Yoyon, YC1MR Kasmuri, YC1ME Mawan and YD1OLG Oleng, assisted by local security guards Enjang and Herman from Pertamina
  • Logistic Support was handled by YD1DOQ Oki

Having Dipole Antenna Installation was completed for TX, it was followed by drawing wire for Beverage Antenna Installation. This activity was taken after team went for Friday Pray Time. Beverage installation was a bit challenging provided by land contour that sloping down to north side across plantation land  owned by local farmer. Length of antenna element was around 160 meters (approximately 1 Wire Length) with 9:1 Matching Transformer at south side (closed to shack) and another one was ended by a 470 ohm terminating resistor at north side.

Around 16:00 Jakarta Time, all installation for antenna and station were accomplished and team were ready for antenna testing

Station Testing

In order to satisfy all equipment setup working properly as expected, station testing needed to be undertaken. Few days prior, team had several mail chains with W6YA Jim, in concern with SKED arrangement outside the contest on top band at agreed time and frequency. This time YC1DPM Awi had chance to test the station using IC-7800 powering EMTRON with output around 500 watts during this test prior to contest.

After having some trials in making CQ for W6YA ON SKED but unfortunately still had no response from him (later on Jim mentioned on his mail that his station barely heard Awi calling CQ, whilst he kept listened to working frequency), Awi decided to make general call and at 1105 UTC, he eventually got his first contact on top band with JH0INP. Congratulation to Awi for his first top band contact  !!!

It was too bad that during trials, W6YA Jim who had already arranged SKED for QSO was unable to hear us, whereas all team members put their concern in making this happen with him. However, we did believe that someday eventually we’ll make contact with Jim (W6YA) on top band.

Afterward, lots more stations called YC1DPM during that period of testing including 2 stations from Indonesia YC1YU Urip and YB1CYD Darmono were put in Awi’s log. Awi got big pile up at the time and certainly could be understood considering YB stations are still becoming rare stations to date on top band. Even, Awi got personal mail from stations worked him expecting that it was a real and they didn’t make contact with PIRATE !!!…LOL…What a funny but could be understood though.

Around midnight (or January 27, 2017 1900 UTC), second group from Bekasi came over Contest Station YB1EME Budi, YB1NWP Nyoman, and Hendri (Rookie).

Approximately 10 minutes prior to contest started, Awi finished his DX activity with total QSO of 59, not too bad for working on top band with 500 watts.

Day-1 Contest

January 28, 2017 at 2210 UTC, YE1K started operation with first call coming from West Malaysia Station 9M2/JE1SCJ. Not many stations we worked that morning, only 9 stations were in log including top bander from YB Land YC1COZ Ferry. Team left the station provided unfavorable band condition after 2330 UTC.

Whilst some team member spent this spare time due to closed propagation, YB1KAR Heri came over Mount Malang from Bandung. A good thing like sort of contest event with multi-operators was always be a gathering moment for us.

When time was just about closed to sunset time here, Mawan started calling CQ for YE1K and immediately got answered from YE1ZAL, a Club Station from Bogor. However, after put YE1ZAL in the log, the rig IC-7800 switched off inadvertently. A troubleshoot by YB1NWP Nyoman who happened to be a very good technician of team, revealed broken 5 VDC internal power supply.

Upon knowing resulted troubleshoot from Nyoman, Team immediately prepared back up rig IC-7300 that unfortunately without dedicated TX and RX Ports available, resulting in a need to install stand alone automatic switch accommodating TX and RX antenna.

Once things related with hardware and software setup were accomplished after 1 hour downtime, YE1K was ready to be on air again followed by incoming station YB1UUU as first station in contact with backup rig IC-7300. This continued until January 28, 2017 23.41 UTC with UD4K was last station in log.

Unlike other contests where team took part, for this top band, operator did not worked alone and assisted by co-operator who made sure in getting partial characters of incoming calls coming in moreover during a pile up in fading. This was how this team used to work on top band with multi-operators. In Day-1, total of 158 stations were in YE1K’s log.

Day-2 Contest

Sunday evening 0900, Jakarta Time, YB1EME Budi, YB1NWP Nyoman, and a Rookie Hendri for certain reason that they needed to handle, left for Bekasi. Ones come ones go, applied to situation there where Sunday afternoon around 1200 Jakarta Time, YD1JZ Joz and YD1ORZ came over Mount Malang and brought us dedicated CW rig for our past contests, Elecraft K3 (we called it as CW Rig since no SSB module installed on this particular one)

Prior to initial use for contest, a pair testing just to compare receiving performance between K3 and IC 7300 was taken using same receiving antenna. By the time, a very weak signal identified by K3, we switched the antenna to IC 7300 whilst adjusting all available menus but this was no to success. Meaning that an identified very weak signal was barely heard on IC 7300 under any circumstances, switching back to K3 and just been heard again, back to IC 7300 and gone.

Upon this resulted test, this convinced all team member to utilize K3 then, replacing IC 7300 that served us in Day-1.

All seemed as planned related with score, achievement, fun that we would go through in Day-2 until unexpected one occurred by the time linear amplifier was switched ON. Small explosion was heard that led us to switch off all appliances. This situation was not expected while Nyoman had been away from station, so none of rest of the team really familiar in how to repair this linear, despite we finally uncovered it and taken Electrolyte Capacitor Module out as suspected root cause.

This took about 2 hours until we reinstalled this module after some cleaning and resoldering. Afterward, prior to covering it back, we needed to do some test by powering it up. All team members were so nervous waiting for what would happened next since they did not know if they made it or not with the repair. Worst thing just happen immediately after it was powered up, we heard bigger explosion came from ELCO module followed by visible sparks. We knew that it was over…it was over. All personnel there were really shocked of knowing what happened, they all showed unhappy faces.

But show must go on. We realized that it was a fact that team needed to face as well as a fact that in turn would affect entire team’s score at the end. Apart that we were away from our initial target score of 323 QSOs, missing our golden moment in making contact with stations in grey line from USA as well as North Asia Stations, we kept facing this.

While most of team went for dinner, except Mawan who tried his luck in continuing operation with barefoot 100 watts, not many stations were in log, only 6 stations from HS and JA. We were just unheard among big guns there. Things looked not quite good until at some moment Mawan heard K7CA calling CQ and responded by sending “YE1K” at correct space. K7CA stopped his CQ and came back with “1K 1K?”. It seemed unbelievable that the signal was heard by K7CA, Mawan sent him back with complete call “YE1K”, but seemed he was unable to copy upon 5 periods back and forth transmission among us, and he was always back with “AGN?”. Until once upon the 6th, Mawan heard his signal much more louder than before and he thought it was just about the right time, followed by sending “YE1K YE1K”. Soon afterward, K7CA replied with “R R YE1K” followed by report exchange between us. At the end of his transmission, K7CA sent thank you twice “TU TU” and replied by Mawan with “TU TU TU” just to express his emotion while working a US station on top band with 100 watts only. Not only that, all team member who still had dinner in the next room were also happy knowing this happend. Big thanks to K7CA for patience and good ear !

Meanwhile, from separate discussion in dining room, upon knowing that it was hard to work with barefoot only, Kasmuri raised his initiative to ask for somebody to deliver his linear amplifier from Bekasi to Mount Malang. It took 2-3 hours travel time from Bekasi to Gunung Malang and it was eventually delivered at 2100 Indonesia Time from his QTH (1400 UTC).

While waiting for backup linear, YB1KAR Heri and YC1DPM Awi replaced Mawan as Operators, keeping running 100 watts and tried to get any chance as we could as possible. Total only 14 stations that YE1K could work within 7 hours period with barefoot 100 watts. One of them was YB1AR Yana Koryana.

By the time the backup arrived station at 2300 Indonesia Time, followed by setup thereafter, we were finally ready to get on air with higher power around 500 – 600 watts. We could not drive this unit higher due to excessive heat revealed on the case, that led us to open all doors and window leaving incoming fresh air for heat dissipation by natural convection.

Only 5.5 hours left before the contest ended, we were just away from our targeted QSOs, that led us to operate the contest with 3 operators (1 Operator and 2 Co-Operators). At the beginning Mawan was the operator assisted by Joz and Heri. This way was proven to be very effective while main operator focused on a station coming in, the other 2 co-operators wrote down other station on separate display thereby QSO rate might be improved accordingly. Team spirit was maintained by doing sort of method in filling in the gap of previous loss time.

In Day-2, we finally logged additional 129 QSOs. So that total 287 QSOs with 140,500 claimed score at the end of contest. Mostly from EU and JA, some from OC and AF, with only 3 stations from Whiskey Land were in log. Total QSOs that far below target of 323 QSOs being initially setup. But through all the hurdles that team went through entire contest, this result was appreciated though. So many lesson learnt on how importance of prepare for the worst mainly in doing contest far away from home base. It all seemed to be well prepared, indeed, except to the one that we missed, Linear Amplifier.

Like former contests, It had always been a struggle to compete with KH stations for Oceania, however, this moment was a positive indication for YE1K to be more active on top band. Moreover, last year we were sorry to say most of team were in deepest sadness of Johan Teranggi YC0LOW who became silent key. He used to be most active top bander here in Indonesia and held DXCC of this band. Besides he became best friend of most of team senior members, he also took part in reinstating station building in Gunung Malang along with us.

What a coincidence, he belonged to some gears we used during contest i.e. Beverage Antenna, Palstar AT2K Tuner, and Elecraft K3, and handed over to some of us.

Post Contest Review

Team conducted review before ended their activity in Mount Malang, led by Mawan, all members raised their input for future improvement as well as maintaining good thing during contest.

See you in the upcoming contest in Mid-February 2017 (CQ WPX RTTY) and hoping to see you again on CQ 160 CW next year, in Mount Malang, that so far being the most appropriate place for team to work on top band.

 

73

Team of YE1K

2 Responses to “CQ 160 CW 2017 – FIRST COMEBACK ON TOP BAND”

  1. Gary, DF2RG Says:

    Hello YE1K team, I was one of the lucky ones from Europe working you on 160m. Thank you for this! But what I cannot understand is, that you use the “service” of a QSL-Seller from Spain? There are many people out there who would be happy to be your QSL-Manager, i.e. providing QSL’s also via bureau, or answering more than one station. Can you please give me any good reason for this …?
    73 de Gary, DF2RG

    • Thanks Gary that we eventually made QSO in the past CQ160 and we do appreciate for you to come by this page. For some stations, there certainly be somewhat preferable decision of why one opted certain QSL Manager upon comparing one to another. Unlike those who decided their basis of decision on it, we just simplified and made it on a snap decision. At the time, what we need was someone that willing to take care of our QSLs as well as managing the reply, regardless of certain background of selected one. We went through unmanageable QSL Cards in the past and certainly we didn’t want sort of situation to reoccur, hence by the time we got someone committed to take care of this, we did not look for alternatives. As long as all incoming cards are well manageable, this has been a lot better compared to the past. That’s it, Gary, nothing so special that requiring series of considerations to make, and things are so far on path. Hoping these explanation might straighten things out.
      ( 73 de Mawan, YC1ME on behalf of Team )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: